Showing posts with label posisi menyusui. Show all posts
Showing posts with label posisi menyusui. Show all posts

Monday, January 30, 2012

Variasi posisi menyusui


Pada minggu-minggu awal setelah kelahiran, ada baiknya mengenalkan kepada bayi lebih dari satu posisi mengisap puting susu ibu. Pada artikel sebelumnya, kita telah mengenal posisi pelukan-ayunan. Posisi lain yang dapat dicoba antara lain posisi berbaring bersebelahan dan posisi pelukan-kempit. Posisi ini sangat berguna pada beberapa hari pertama masa pemulihan setelah proses kelahiran melalui operasi sesar.

Kiri ke kanan: posisi pelukan-ayunan; pelukan-kempit; berbaring bersebelahan

Posisi berbaring bersebelahan
Posisi ini menyerupai posisi pelukan-ayunan, tetapi ibu dan bayi berbaring bersebelahan dan berhadapan. Gunakan dua buah bantal di bawah kepala ibu, sebuah bantal di bawah kaki bagian atas, dan sebuah bantal diselipkan di belakang bayi. Memang diperlukan banyak bantal untuk membuat ibu dan bayi merasa nyaman pada posisi ini. Letakkan bayi pada sisi menghadap ibu dan dalam pelukan lengan ibu. Geser bayi ke atas dan ke bawah untuk memperoleh posisi bibir yang pas dengan puting susu ibu. Gunakan teknik menempelkan mulut bayi ke puting susu ibu dan mengisap dengan benar yang telah diuraikan sebelumnya

Posisi pelukan-kempit
Posisi ini sangatlah cocok untuk bayi yang memiliki kesulitan menempelkan mulut pada puting susu dan bayi yang suka menggeliat serta meliukkan punggungnya untuk melepaskan diri dari payudara ibu. Posisi ini juga berguna bagi bayi yang hipotonik, lemas atau bayi prematur.
Ibu berada pada posisi duduk tegak pada ranjang/ kursi yang nyaman. Siapkan bantal di sisi ibu atau menjepitkannya di antara badan ibu dan lengan kursi, lalu baringkan bayi di atas bantal. Atur posisi bayi di sepanjang sisi kiri ibu dan tahan bagian belakang leher bayi dengan tangan kiri ibu. Tempelkan kaki bayi pada bantal yang menyangga punggung ibu. Pastikan bahwa bayi tidak mendorong kakinya ke belakang kursi atau bantal sehingga ia membengkokkan punggungnya. Bila terjadi demikian, posisikan bayi hingga pinggulnya terkempit dan bokongnya diletakkan pada bantal. Gunakan teknik yang sama untuk menempelkan mulut bayi ke puting susu. Pegang dan angkat payudara kiri dengan tangan kanan, dan tarik bayi sedekat mungkin pada ibu. Jika bayi sudah mengisap dengan benar, selipkan bantal di punggung bayi untuk membantu ibu memeluknya lebih dekat.

Saturday, January 28, 2012

Posisi menyusui yang benar (Bagian II)

5.    Dengan tangan ibu yang bebas, keluarkan beberapa tetes kolostrum untuk melembapkan puting. Rengkuh payudara dan tahan beratnya dengan telapak tangan dan jari-jari di bagian bawah serta ibu jari pada bagian atas. Tahan tangan menghadap dada ibu sehingga jari-jari tetap dapat memegang areola menjauh dari mulut bayi yang tengah menghisap.
6.    Dengan puting susu yang telah dilembapkan sebagai penggoda, usap-usaplah bibir bayi secara perlahan, sehingga membantu bayi membuka mulutnya lebar-lebar. Ketika mulutnya membuka lebar, arahkan puting susu ke bagian tengah mulut dan tarik tubuh bayi agar lebih dekat dengan ibu.
7.    Gusi bayi harus melewati bagian dasar puting susu dan menghisapnya paling tidak sampai 2 cm dari areola. Pentingnya bayi menakan areola adalah bahwa saluran ASI berlokasi di bawah areola, sehingga akan membantu keluarnya ASI.
8.    Bantu bayi untuk membuka mulut lebih lebar dengan menggunakan jari dari lengan yang menahan payudara untuk menekan bagian dagu bayi. Bibir bawah bayi juga harus terbuka ke bawah, bukan terlipat ke dalam/ ke atas.
9.    Bila isapan bayi terasa terlalu ketat dan menyakitkan, pindahkan tangan yang menyangga dada dan gunakan jari ibu untuk membuka bibir bayi. Selipkan jari di antara gusinya secara perlahan dan ulangi semuanya dari awal.

Ketika bayi sudah menempel dan mulai menghisap dengan benar, periksalah beberapa hal berikut ini:
  • Pastikan bayi mengisap areola hingga jarak 2-3 cm
  • Bibir bayi yang menempel pada kulit ibu harus terlipat ke luar, jika tidak demikian tarik rahang bawah bayi
  • Seluruh rahang bayi bergerak saat menghisap
  • Ibu dapat mendengar suara bayi menelan air susu
  • Tidak ada rasa sakit atau terjepit yang dirasakan ibu

Dengan menerapkan posisi menyusui yang baik dan benar, niscaya ibu dapat lebih bersemangat menyusui, dan bayi pun nyaman menyusu. Tidak ada lagi rasa sakit pada puting atau punggung ibu, dan bayi dapat memperoleh nutrisi yang dibutuhkannya dari ASI. Dengan posisi yang benar, ibu dan bayi juga akan lebih rileks dan menikmati saat-saat pemberian ASI, sekaligus membangun hubungan yang erat dan penuh kasih antara keduanya.

Friday, January 27, 2012

Posisi menyusui yang benar (Bagian I)

Kebanyakan ibu menyusui mengeluhkan puting susu yang sakit, air susu yang tidak mencukupi, dan berbagai masalah lain. Untuk menghindari dan mengurangi berbagai masalah ini, yuk coba tengok kembali apakah posisi menyusui sudah benar atau belum.

Posisi ibu
Atur tubuh senyaman dan serileks mungkin ketika ibu hendak menyusui bayi agar ASI pun mengalir lebih baik. Posisi duduk tegak di tempat tidur, kursi goyang, atau kursi berlengan dapat menjadi pilihan. Tempatkan satu bantal di belakang punggung ibu, satu bantal pada pangkuan ibu, dan satu bantal di bawah lengan yang akan menopang bayi. Bila duduk di kursi, gunakan penyangga kaki untuk mengangkat pangkuan cukup tinggi sehingga ibu tidak perlu membungkukkan punggung dan otot lengan untuk membuat bayi lebih dekat ke payudara. Untuk persiapan paling baik bagi pikiran dan tubuh ibu, pikirkanlah bayi Anda dan tugas Anda sebagai ibu.

Posisi bayi
Bagi pemula, bisa memulai dengan bayi yang hanya menggunakan sedikit pakaian atau bahkan telanjang, sehingga kulit ibu dan bayi bersentuhan. Melepaskan pakaian bayi yang mengantuk juga akan membantu membangunkannya sehingga dapat menyusu dengan lebih baik. Berikut adalah teknik dasar pelukan-ayunan untuk menyusui:
  1. Dekap bayi dalam pelukan lengan ibu sehingga lehernya bersandar pada lekukan sikut ibu, punggungnya di sepanjang lengan dan bokongnya di tangan ibu.
  2. Putar seluruh tubuh bayi pada sisinya sehingga berhadapan dengan ibu dan perut ibu-bayi bertemu. Kepala dan leher bayi harus tetap lurus, tidak mendongak atau miring, agar dapat mengisap dengan baik.
  3. Angkat bayi pada ketinggian mendekati bagian dada ibu dengan cara meletakkannya di atas bantal pada pangkuan ibu dan dengan menggunakan penyangga kaki. Biarkan bantal dalam pangkuan ibu mendukung lengan ibu dan menyangga berat bayi. Mengangkat bayi dengan lengan ibu hanya akan membuat punggung dan otot lengan menjadi tegang. Angkat bayi mendekati dada ibu, bukannya menurunkan tubuh ibu untuk mendekati bayi.
  4. Tahan gerakan tangan bayi yang mengganggu. Saat bayi dimiringkan, sehingga perut keduanya bertemu, selipkan lengan bawah bayi ke kantung jari lembut yang diletakkan di antara tubuh bayi dan pinggang ibu. Bila lengan atasnya tetap mengganggu, tahan dengan ibu jari tangan ibu yang memeluknya.


Bersambung...